Saturday, June 20, 2009

LOVELY WAR

0 comments

menang kalah, bukan urusanmu

tapi kamu harus menang

setidaknya kamu harus berusaha untuk menang

dan semua pengalaman demi mewujudkan kemenangan itu
akan menjadi langkah-langkah
untuk kemenangan berikutnya


aku tak ingin menyerah sampai di sini
jalanku masih panjang
ada ribuan titian yang belum
menyangga kaki kecilku

aku ingin menang
untuk diriku sendiri
dan orang-orang yang mencintaiku

[+/-] Read more...

Ajarkan Aku Menjadi Naif

0 comments

This is my favorite poem from Supernova-Ksatria, Putri, dan Bintang Jatuh....


Ajarkan aku menjadi naif
Senaif dirimu yang masih bisa tertawa
Senaif kebahagiaan di alam kita berdua
karena setiap detik ketika kenyataan mulai bersinggungan
Aku rasakan sakit yang nyaris tak tertahankan
Atau ajarkan aku menjadi penipu
Apabila ternyata
Kau merasakan sakit itu dalam tawamu

[+/-] Read more...

Bapak

0 comments

Wow, ternyata sudah lama aku enggak menyentuh blog ini. one month! yeah, many things happen. Dan selama satu bulan itu, aku merasa lebih baik setiap harinya. Lukaku sudah hampir kering dan aku bisa menatap masa depan dengan lebih bijaksana dan ceria. teman-temanku sungguh luar biasa. Mereka mendukungku, memelukku, berbicara berjam-jam denganku, bahkan hingga dini hari. Tak banyak orang mau melakukannya. Tapi mereka luar biasa. mungkin karena secara psikologis, cewek secara naluriah akan membantu temannya untuk memecahkan masalah mereka dengan berbicara dan mendengarkan.



Ada satu orang teman yang sangat spesial. Dia spesial, karena dia bukan cewek. dan kami terkadang berbicara berjam-jam. Well, semua temanku spesial, namun aku ingin bercerita tentang sahabat baruku ini. Kami telah berteman selama 21 tahun, seumur hidupku. Kami sering melakukan banyak hal bersama. Tak pernah berpisah, kecuali setelah aku kuliah. Namun, justru saat aku semakin dewasa dan bertumbuh, aku semakin memahaminya dan mampu berbagi dengannya dengan caraku. Aku tak pernah menduga aku bisa bersahabat dengannya. Ya, aku tak pernah menyangka aku bisa bersahabat dengan bapakku.

Waktu itu hampir tengah malam. hari kedua 'liburan' di rumah. Televisi menyiarkan pertandingan sepak bola, kurasa liga italia, namun aku lupa tim apa. Kami berdua sama-sama mengalami perubahan jam biologis sehingga baru bisa tidur setelah pukul satu atau pukul dua. Kami suka bicara mengomentari banyak hal, sehingga tak heran jika diskusi dengan bapak selalu menyenangkan. Malam itu kami membicarakan salah satu pemain yang gantung sepatu setelah pertandingan berakhir. Sepertinya masa depannya cerah, jadi kami tidak khawatir.

Entah ada dorongan apa (mungkin karena topik pembicaraan kami sudah habis), aku mulai mengutarakan perkembangan masalah yang sudah membuatku down sebulan terakhir. Aku tahu bapak juga khawatir akan kondisiku, jadi kupikir bapak perlu tahu bahwa aku baik-baik saja, setidaknya aku berjalan ke arah yang membawaku pada kondisi baik-baik saja. Aku menceritakan analisisku, fakta-fakta yang terjadi, dan keputusan yang kuambil terhadap masalah itu. Meskipun kami berdua tahu bahwa secara rasional kami bisa menerimanya, namun ini berat untuk hatiku. Sehingga bapak membiarkan saja waktu aku menangis. Tak ada larangan, tak ada keterkejutan dari bapak. Bapak hanya mengerti. Bapak tidak menyalahkan semua pihak yang telah terkait dengan masalah ini. Bapak hanya mengerti, memahami, dan bersimpati. Semua keputusan ada di tanganku. Bapak selalu bilang, "ini adalah hidupmu. Kamu yang akan menjalani semua keputusanmu, semua pilihanmu. Dan yakinlah, masalah yang datang padamu ini adalah kesempatan untuk mendewasakan dirimu."

Seperti ibuku, bapakku juga luar biasa. Rasionalitas yang ada padanya, mengajarkanku untuk tetap tegak berdiri meskipun hatiku hancur luar biasa. Membawaku pada dimensi penuh syukur atas semua yang masih kumiliki saat ini. Bapakku tidak pernah mengajarkan dendam. Tidak pernah mengajarkan kebencian. Bapak selalu mengajakku untuk memahami orang lain. Mencoba melihat orang lain dari berbagai sudut pandang. Ketika ada orang lain melakukan kesalahan, bapak tak pernah menempatkannya di sudut mati yang membuat orang tersebut tak layak disapa. Dari situlah perlahan-lahan aku memaafkan sakit hatiku dan memaafkan semua luka.

memaafkan. Itu yang ingin diajarkan bapak padaku, kali ini.

[+/-] Read more...

Monday, May 18, 2009

Menunda Mencuci Baju adalah Kebodohan

3 comments

Ya, kebodohan yang tak terbantahkan! (jangan membantahku untuk hal ini!)

everybody who cares about me pasti notice kalo selama sebulan terakhir ini, i was turning into a living corpse, mayat hidup yang kerjaannya cuma tidur, makan, sholat. Thus, banyak pekerjaanku yang terbengkalai (banyak banget!!!! termasuk skripsi yang menentukan hidup matiku di kampus pun tak onggokkan begitu aja di sudut file laptopku..FIUH)...


Tapi skripsi yang tertunda tidak akan membuatku merasa bodoh kecuali aku ujian dan dibantai habis-habisan (ujianku masih lama, jadi aku tidak perlu khawatir dibantai saat ini). Ada hal-hal yang jauh lebih remeh dari skripsi, tapi menundanya membuatku mengutuk diri sendiri dan salah satunya adalah doing my laundry!! Mungkin semua orang akan ketawa dan bilang, "halah, itu kan cuma baju-baju kotor. bawa ke laudry beres kan?" NOPE!!! Not for me. I'm not a laundry lover. Jadi sebisa mungkin aku cuci bajuku manual otot kawat balung besi manusia, ho2x..idealis.

Well, secara slama ini aku berhasil mengembangkan sebuah kebiasaan baik (dan aku bangga, he2x) yaitu mencuci baju secara reguler dua hari sekali maksimal 6 potong. entah kenapa sejak dulu baju-baju kotor adalah beban terberat buatku dalam menjalani hari, so you guys know why i'm so upset ketika setelah sebulan yang aneh kemarin, tiba-tiba baju kotorku numpuk banget! hard work!

when i'm getting better (coba baca posting 'blogging it menyenangkan') dan ketika aku coba buat mengerahkan semangat untuk mencuci lagi, baju kotor itu gak abis-abis!! even until now..hiks...

sekarang aku mau mencuci dulu, sepertinya langit cerah..wish me luck..

NB:ada kebodohan yang lebih besar lagi yang udah kulakukan terkait sama penundaan...after washing deh...

[+/-] Read more...

Friday, May 15, 2009

Goldvish Phone

0 comments

According to the Guinness World Record, GoldVish phone is the most expensive mobile phone. The Gold Vish Le Million (just like its name,) costs 1 million euros, or about $1.45 million (around 1.1 billion rupiah). The unusual-shaped device is made out of 18-carat white gold and features 1,800 diamonds totaling 120 carats.

there are some questions that boggle my mind...


1. Who want to spend 1.1 billion rupiah just to buy a mobile phone?
2. What a huge decision! (And yeah, stupid I think. last year ago I just spent two hundred and ten thousand rupiah and I got a brand new cell phone! And it works well!)
3. How if the GoldVish is stolen?
4. How if we carelessly pour a cup of coffee?
5. How if somebody drops it from our table?
6. How if one the component doesn’t work?

Fiuh... The world must be crazy. We can use the money to save thousand of children in Africa or to solve the poverty in Indonesia.

[+/-] Read more...

Dear Bu Arwi

0 comments

this is my acknowledgment for extensive reading class which i put on the cover of the final report... i love this class very much!!!

The end of semester, June 2008


Dear Bu Arwi,

Thanks for a marvelous ER class. ER is an Extraordinary Room which inevitably gives us space to be creative thinkers. You never force me to do this and that, but I love to do all this semester projects.



Love and hug,
Trying-to-not-to-be procrastinator anymore
Rosaline Meda


I also write the longer acknowledgment on the first page to say thousand thanks to Allah and all the people around me that have given me strength to stand...

Thanks Allah for not letting me getting up late. I am afraid of not being able to get up at 2 a.m. I know that procrastinator like me should be punished with mountain of assignments, but this semester, is the hardest punishment. Thanks for still letting me alive…

Thanks Mom and Dad for the calling and praying that pouring me great spirit… I don’t know what my life would be without your love…

Thanks Bu Arwi for your companionship. There is no lecturer that wants to listen to student’s problem better than you…

Thanks to Eyang Wahab for being a great grandfather… there is no Professor that so humble and caring like you…

Thanks to Silvia, Endri, Miftach, and all the House of Forkis dwellers for your sisterhood, laugh, and care…

Thanks to Forkis member for letting me go off from duty for a while to touch my beloved homework…

And thanks to myself for not giving up!
This is the best work you have ever done!
Congratulation!!!!

"If you fall back a few steps, climb the stairs again”
Finally, it’s a nice ending

[+/-] Read more...

Life on the Refrigerator Door

0 comments

Novel, 220 pages
Author: Alice Kuipers

a very light but full of meaning story...

This story is about a girl named Claire and a mother (a doctor) who are too busy to see each other everyday even though they live under the same roof. Usually, they write a note and then attach it to the refrigerator door. Each of them cannot reduce their activities even when the mother is sentenced by another doctor that she got a breast cancer. Their life continues that way until the mother passed away.


hmm, I cannot imagine of living that way. Talk to refrigerator door almost every day and attach notes to answer? It sounds pathetic and violates the human right of getting compassion from each other. Human being is not a robot that doing multitasks without having enough time to be together with family. We need to talk, look at the eyes of our mother, hold her hands, and feel the warmth of her hug. I know that the frequency of meeting doesn’t guarantee that the family relationship will be good but having no minute to see our house members is a disaster for humanity.

[+/-] Read more...